- Him: u r single? u like pakistani people?
- Me: yes, i am single but i waiting someone in here. Pakistani people? i don't know about them
- Him: oh oke dear tell me. u r married?
- Me: no, i 16th years old. i not thnk about boyfriend or marrid now..
- Him: oh sorry.. but i propose u (((PROPOSE))) *menggema, hha* i want marry u, and i will give u all happiness
- Me: oh i am sorry, coz i am very kid to think about that now.. i want to study (bijak oii)
- Him: its ok.. after marry u can study. u want do everything which u like. i cant stop u
- Me: our distance very longer you know..!! you are from pakistan n' i am from indonesia
- Him: its ok. i love u. just see. U R MUSLIM?? I AM MUSLIM. U R HUMAN BEING. SO I Am HUMAN, THEN ITS OK. but have right to like me, because its ur right, if u dont like me, then i will accept ur decession. i love a lot, i give u too much love, realy.
- Me: i think i can not with you. i am waiting someone in here
- Him: y. ok if u have any boy f and lover. so tell me
- Me: you can look for someone in pakistan if you want to marry now.
- Him: i want marry which one i like. first time any girl i like too much. i cant live without u. and 2nd picture i post on my room wall. i see it every time, i realy love u. if u have skype then u can see ur picture on my wall
- Me: hah? why you dont look for someone in Pakistan?
Tampilkan postingan dengan label Romance. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Romance. Tampilkan semua postingan
Minggu, 11 Oktober 2015
Menolak Lamaran
This conversation happened when I'm 16 Y.O, and my English is too bad,
in serious condition. Hha.. Someone chat me on FB. Sebelum ini, udah ada
percakapan basa-basi yaa, jadi ambil intinya aja. Here we go..
Sabtu, 19 September 2015
Perihal Diamku
Cuaca akhir-akhir ini benar-benar berhasil membuatku menyerah, beberapa minggu aku sudah bertahan dengan cuaca panas di siang hari dan akan sangat dingin saat malam sampai pagi hari. Sudah lama hujan tak datang, ini kemarau, gersang, sama seperti hatiku. Lama hujan tak pernah datang, lama juga kabarmu tak kunjung kudapatkan. Pamitmu waktu itu melalui pesan disalah satu sosial media, bahwa setahun kedepan kau tak bisa memberi kabar, aku menangis terisak. Hatiku tak bisa serta merta menerima keputusan sepihak, hujan mungkin tak sedang turun diluar, tapi ia jatuh dari sudut mataku. Saat itu aku sedang dikotamu, berkaca-kaca mataku tetap menatap layar ponsel digenggaman, membaca pesanmu berulang-ulang, berharap kau salah kirim, atau apapun yang bisa lebih membuatku tenang.
"Bila sudah dikotamu saja aku masih tak bisa melihatmu, lalu aku harus pergi kemana?"
Selasa, 19 November 2013
Menunggu
Entah ini namanya apa, mungkin memang "Menunggu". Menunggu ketidakpastian lebih tepatnya, ditanggal yang ku bilang "sakral", dua puluh enam. Dua puluh enam yang memberi pengakuan, dua puluh enam yang memberi kepastian mungkin.
Dua puluh enam, dua puluh enam, dua puluh enam, akankah angka ini gak ada artinya kalau aku berulang-ulang menyebutnya. Mungkin sampai aku bosan, tapi tidak. Aku tetap menunggu sesuatu disana, tidak bisa ku elak. Aku memang sedang menunggu, kamu. Hanya itu. Kamu.
Abal-abal
Hey
hujan,
Tega
sekali kali ini kamu mengurungku dalam situasi yang tidak menguntungkan sama
sekali. Puasa sendiri, terjebak hujan di kost sedangkan aku ingin membeli
beberapa makanan diluar. Ahh,.. udara mendesir terasa dingin menyentuh daun
telingaku. Rasanya ingin makan enak kali ini, sayang keadaan tidak berpihak
padaku. Mataku melirik mesra 3 bungkus mie sedap goreng dalam lemari yang
memang ku sediakan kalau-kalau ada kejadian (seperti ini). Dua bungkus kopi
instan siap seduh juga turut minta ku jamah, ternyata sudah sebulan lebih aku
tidak minum kopi. Fiuhhh... Ku hela napas panjang menatap diriku sendiri
mengenaskan. Hidup macam ini?
Hujan,
apa kamu punya cara membuatku tersenyum kali ini? Menghiburku karna kelakuanmu
yang sedikit menyebalkan sore ini. Aku tidak punya teman rasanya, miris sekali.
Aku kah manusia paling kurang bersyukur di dunia? Entahlah... mungkin saja..
Aku
bingung, mungkin baginya aku seperti memberi tamparan keras dihadapan umum. Aku
benar-benar menganggapnya seperti angin yang berlalu begitu saja, atau seperti
deretan sepedah motor yang terjejer rapi di parkiran. Astagaaa..!! Tega sekali
aku ini. Makhluk macam apa aku ini? Aku membuatnya berharap dan sekarang aku
tak menganggapnya sama sekali. Tapi buatku, kata teman tidak semestinya
berlebihan seperti itu. Haruskah aku sering-sering dekat dengan dia? Bukankah
itu hanya seperti memberi karcis Cuma-Cuma untuk masuk ke dalam hidupku lagi?
Aku tidak mengusirnya, tidak. Hanya aku tidak mau dia terlalu berharap. Aku
tahu aku memustuskan untuk berteman lagi dengan dia, tapi tidak harus dengan
pulang pergi bersama. Tidak. Aku tahu itu tidak akan efektif untuk misi
melupakan. Sungguh cara yang sangat bodoh.
Jumat, 23 Agustus 2013
Jangan dibaca..!!
Jangan dibaca...
Eh, sudah ku bilang jangan...
Masih mau baca?
Jangan, nanti kamu nyesel...
Sudah hentikan...
Eh, sudah ku bilang jangan...
Masih mau baca?
Jangan, nanti kamu nyesel...
Sudah hentikan...
Jumat, 02 Agustus 2013
Surat untuk: Aida Fitria Ashfiya
Pesan untuk kamu yang jauh disana,
Sang Bidadari Surga.
Assalamu’alaikum...
Ku ketuk pintu Surga untuk mengantarkan surat ini pada Dek Aida Fitria Ashfiya.. (semoga aku tidak salah menuliskan namamu)
| Sumber gambar: Google |
Sabtu, 06 Juli 2013
cin(T)a
Saya sadar kalo' sebenernya dalam hidup banyak banget perbedaan. Mungkin biar bisa nyatu, jadi Tuhan bikin dunia ini beda-beda isinya. Bahkan Indonesia aja punya kata-kata mujarab yang bisa nyatuin seluruh rakyatnya dari Sabang sampai Merauke, iya.."Bhinneka Tunggal Ika" yang artinya "Meskipun berbeda-beda tetapi tetap satu jua" katanya. Meskipun saya juga heran, kenapa di Ambon sana masih banyak orang yang perang tentang suku ini dan suku itu. Yang katanya "satu" dan udah merdeka, tapi masih aja angkat senjata.....bla..bla..bla..
Eh, Nasionalis banget kan saya ngomongnya? haha..
Dibalik itu, diantara perbedaan yang bisa menyatukan manusia dengan manusia lainnya adalah "cin(T)a". Banyak kan orang Manado yang nikah sama orang Jawa, orang Sunda yang nikah sama orang Betawi, orang Makassar nikah sama orang Papua (mungkin),dan lain-lain. Mungkin mereka menerapkan prinsip, "perbedaan yang bikin persatuan." Indah mungkin yaa?

Tapi anehnya saya sendiri kalap dengan kata-kata itu. Padahal juga gak sampai beda agama kayak cerita yang saya tonton semalem pas kena insomnia mendadak. Saya nonton film "cin(T)a". Yang nyeritain cowok bernama Cina yang beragama kristen dan Anisa yang beragama Islam. Ya memang kamu bukan Cina, dan saya juga bukan Anisa, karna kita masih saudara.
Eh, Nasionalis banget kan saya ngomongnya? haha..
Dibalik itu, diantara perbedaan yang bisa menyatukan manusia dengan manusia lainnya adalah "cin(T)a". Banyak kan orang Manado yang nikah sama orang Jawa, orang Sunda yang nikah sama orang Betawi, orang Makassar nikah sama orang Papua (mungkin),dan lain-lain. Mungkin mereka menerapkan prinsip, "perbedaan yang bikin persatuan." Indah mungkin yaa?
Tapi anehnya saya sendiri kalap dengan kata-kata itu. Padahal juga gak sampai beda agama kayak cerita yang saya tonton semalem pas kena insomnia mendadak. Saya nonton film "cin(T)a". Yang nyeritain cowok bernama Cina yang beragama kristen dan Anisa yang beragama Islam. Ya memang kamu bukan Cina, dan saya juga bukan Anisa, karna kita masih saudara.
Senin, 01 Juli 2013
Rindu Kamu Nov....
Nov...
Kapan kamu kembali? kunjungi aku bersama hujan yang sekarang sudah jarang datang disini. Panas sering membuatku mengatupkan kata-kata yang ingin ku katakan pada hujan Nov... Bila matahari sudah keterlaluan, aku sering mengumpatnya. Lalu diam-diam aku merindukanmu Nov.. Yang sering datang kesini bersama rintik-rintik hujan yang kadang membawa aroma khas tanah menyengat.
Nov...
Kapan kamu datang? mengabarkan bahwa umurku bertambah? Membawa kabar bahwa sudah delapan belas kali aku bertemu denganmu, sekali dalam setahun. Mengabarkan bahwa sudah banyak perubahan dalam diri orang lain, atau bahkan perubahan pada diriku sendiri.
Kapan kamu kembali? kunjungi aku bersama hujan yang sekarang sudah jarang datang disini. Panas sering membuatku mengatupkan kata-kata yang ingin ku katakan pada hujan Nov... Bila matahari sudah keterlaluan, aku sering mengumpatnya. Lalu diam-diam aku merindukanmu Nov.. Yang sering datang kesini bersama rintik-rintik hujan yang kadang membawa aroma khas tanah menyengat.
Nov...
Kapan kamu datang? mengabarkan bahwa umurku bertambah? Membawa kabar bahwa sudah delapan belas kali aku bertemu denganmu, sekali dalam setahun. Mengabarkan bahwa sudah banyak perubahan dalam diri orang lain, atau bahkan perubahan pada diriku sendiri.
Tentang Aku, Kamu, dan Hujan
Barangkali melupakan seseorang memang tak bisa semudah Tuhan membolak-balikkan hati manusia. Mungkin kamu pun sudah terjebak dalam siklus yang hanya bisa bolak-balik, tak bisa melepas komponen yang lainnya. Ya, aku sangat sadar. Sungguh amat sadar sekali bahwa ini masalah seonggok daging yang disebut hati yang didalamnya tertimbun dan berjubal berbagai perasaan yang semakin sesak lalu kamu kehabisan rongga untuk bernapas.
Setiap kamu bilang, bahwa aku tak mengerti perasaanmu. Aku memang teramat merasa sangat bersalah. Seperti ditimbun beberapa ton pasir dan aku terjerembab didalamnya. Semakin tidak bisa bergerak, yang bisa ku usahakan hanya mendongakkan kepala keatas lalu mengeluarkan tiupan karbondioksida yang tak ada timbal balik dari oksigen mampir ke paru-paruku. Semuanya hanya seperti zat-zat berbahaya yang mampu mematikanku kapan saja. Tak ada pilihan. Atau seperti menunggu kematian, begitu.
Setiap kamu bilang, bahwa aku tak mengerti perasaanmu. Aku memang teramat merasa sangat bersalah. Seperti ditimbun beberapa ton pasir dan aku terjerembab didalamnya. Semakin tidak bisa bergerak, yang bisa ku usahakan hanya mendongakkan kepala keatas lalu mengeluarkan tiupan karbondioksida yang tak ada timbal balik dari oksigen mampir ke paru-paruku. Semuanya hanya seperti zat-zat berbahaya yang mampu mematikanku kapan saja. Tak ada pilihan. Atau seperti menunggu kematian, begitu.
Catatan: 23 Januari 2013
Kutemukan catatan ini, terselip..
Aku tak sadar pernah menulis seperti ini:
"Sarapanku hambar pagi ini, mungkin karna bahagia yang terlalu,
tapi tetap ku paksa menelannya, sampai suapan terakhir.
Ternyata benar, aku terlalu bahagia...
Selain sedang tergila-gila dengan pena,
Aku bahagia karna satu kata:
'kangen', katanya."
Aku tak sadar pernah menulis seperti ini:
"Sarapanku hambar pagi ini, mungkin karna bahagia yang terlalu,
tapi tetap ku paksa menelannya, sampai suapan terakhir.
Ternyata benar, aku terlalu bahagia...
Selain sedang tergila-gila dengan pena,
Aku bahagia karna satu kata:
'kangen', katanya."
Jumat, 21 Juni 2013
Yang semalam itu...
Sejak semalam, rasa itu tiba-tiba menyeruak seperti riak-riak air sungai yang menghantam batu lalu terpias keudara. Rasaku memuncak, seperti perasaan bersalah yang berjatuhan bagai rintik-rintik hujan semalam membasahi kita. Senyuman yang sama sejak sebelum aku bersikap acuh padamu, aku menyesal. Menyesal sekali, maafkan aku.
Kalau saja hujan tak memaksaku pergi semalam, aku masih ingin disana. Yaa entahlah untuk apa juga berlama-lama, aku tak tau. Tapi,aku tetap melaju mengegas sepedah motorku menerjang kumpulan hujan yang semakin rapat. Meninggalkanmu di parkiran tempatku meminta bantuan (untuk kesekian kalinya mungkin). Maaf merepotkanmu lagi.
Kalau saja hujan tak memaksaku pergi semalam, aku masih ingin disana. Yaa entahlah untuk apa juga berlama-lama, aku tak tau. Tapi,aku tetap melaju mengegas sepedah motorku menerjang kumpulan hujan yang semakin rapat. Meninggalkanmu di parkiran tempatku meminta bantuan (untuk kesekian kalinya mungkin). Maaf merepotkanmu lagi.
Senin, 06 Mei 2013
And He's Gone
![]() |
| Buku yang Wajib kamu baca..!! |
Ini adalah salah satu judul BAB 17 sebuah novel karya Putri Annisa yang diberi judul "Pondok Lentera". Novel ini baru aku beli kemarin di sebuah toko sekitar Kampung English, Pare. Dan langsung ku khatamkan tadi pagi tepat sebelum sarapan.
Disini, Putri Annisa menceritakan kehidupan seorang cewek bernama Puput (dia sendiri) yang mondok di sebuah Ponpes yang berlokasi di Jakarta, namanya Ponpes Asshidqiyyah. Seperti layaknya kehidupan santri pada umumnya, dia pun bahagia dan menikmati kehidupannya disana. Atau memang terkadang menyimpan rasa bosan yang tiba-tiba menguasai hati begitu saja.
Langganan:
Postingan (Atom)
