"Bila sudah dikotamu saja aku masih tak bisa melihatmu, lalu aku harus pergi kemana?"
Sabtu, 19 September 2015
Perihal Diamku
Cuaca akhir-akhir ini benar-benar berhasil membuatku menyerah, beberapa minggu aku sudah bertahan dengan cuaca panas di siang hari dan akan sangat dingin saat malam sampai pagi hari. Sudah lama hujan tak datang, ini kemarau, gersang, sama seperti hatiku. Lama hujan tak pernah datang, lama juga kabarmu tak kunjung kudapatkan. Pamitmu waktu itu melalui pesan disalah satu sosial media, bahwa setahun kedepan kau tak bisa memberi kabar, aku menangis terisak. Hatiku tak bisa serta merta menerima keputusan sepihak, hujan mungkin tak sedang turun diluar, tapi ia jatuh dari sudut mataku. Saat itu aku sedang dikotamu, berkaca-kaca mataku tetap menatap layar ponsel digenggaman, membaca pesanmu berulang-ulang, berharap kau salah kirim, atau apapun yang bisa lebih membuatku tenang.
Senin, 07 September 2015
Dream as high as the sky.
Gue percaya bahwa setiap orang punya mimpi, cita-cita, harapan, juga keinginan. And my teacher ever told to me, "It's oke to have a dream as high as the sky, coz when you fall, you still among the stars." Dan nggak sedikit orang yang (mungkin) punya cita-cita sama kayak gue. STUDY ABROAD. Yes, I know I'm not the only one. Study di luar negeri jelas menuntut kita harus bisa bahasa inggris biar lebih gampang berkomunikasi, bukan cuma itu sih, karna sebelum keluar negeri udah pasti kita bakalan di test TOEFL juga. Dan jujur gue belum pernah test. #suck
Kalo ditanya orang, "Lo pengen kemana emang kalo mau study abroad?"
Gue lebih sering jawab, "Australia"
Even though... gue bakal terima-terima aja sih kemanapun diluar negeri asal gue afford. Meskipun belum valid gue pengen di Universitas mana ntar, dan padahal juga masih mau semester segini, masih lama yang mau lulus. :D
But, you know what?
Kalo ditanya orang, "Lo pengen kemana emang kalo mau study abroad?"
Gue lebih sering jawab, "Australia"
Even though... gue bakal terima-terima aja sih kemanapun diluar negeri asal gue afford. Meskipun belum valid gue pengen di Universitas mana ntar, dan padahal juga masih mau semester segini, masih lama yang mau lulus. :D
But, you know what?
Rabu, 02 September 2015
The Lowest Point of Life
This morning, I asked to my friends via Group WhatsApp Messenger, I asked them about life.

“Guys? Have you ever felt or moderate experiencing the lowest point in life?Then I stop to ask them and thinking for a while, all this time I felt just me who had a problem and felt stuck in the lowest point of life, but when I looked around, I saw many people had a problem and it’s hard to walked away. Their foot felt so heavy to moved. Their shoulders looked heavier than usual, as much of the burden borned. Their eyes looked more wistful than before, like a lot of the night they spent to stayed awake. And I saw them still have smile to share, till no everyone know what happen in their life, how broken their heart, how difficult to still show good condition, but they’re not.
“Yes, I’m”
“I feel it also, in the lowest point”
“Yeah, me too”
I learn from you guys, how can you be patient and still struggle? How can you give smile but your mouth want to scream? How can your eyes still sparkle but you want to cry loudly? I'm so shy with myself, I had too much to complain. But I’ve never strive to pray more diligent, so how can Allah give me more if I never say thankful to Him who was given me everything free?
Kamis, 27 Agustus 2015
Almost Desperate
- Jane:Apasih? dateng-dateng nyamber makanan orang.
- X:Hah, gila lo makanan pedes gini dimakan. Yakin perut gpp?
- Jane:Otak gw yang kenapa-kenapa.
- X:Lo kalo lagi setres suka makan makanan pedes kyak gini?
- Jane:Ini ngebantu otak gw sedikit waras. Gw jadi lebih mikirin air minum ketimbang yang ada diotak.
- X:Lagi ada masalah?
- Jane:Muak, kesel, hopeless.
- X:Sama?
- Jane:Diri sendiri?
- X:Please explain!
Kembali
Lama juga gue ninggalin Blog ini, tiba-tiba gue pengen balik kesini. Setelah gue lupa sama password also e-mail Blog ini, beberapa hari yang lalu semuanya gue edit. Dan tadaaaaaa!! I'm back!! Kembali kesini juga bukan tanpa alasan, gue lagi nyari tulisan yang masih ke-save di draft yang takutnya masih penting, entah penting entah terlalu banyak perasaan yang kekunci disana.
Well, ada juga sesuatu yang nggak bisa gue posting di akun gue yang lain. Tapi gue pengen ngeplongin hati aja. Then, after this I wanna share what's on my mind yang udah gue tulis.
Well, ada juga sesuatu yang nggak bisa gue posting di akun gue yang lain. Tapi gue pengen ngeplongin hati aja. Then, after this I wanna share what's on my mind yang udah gue tulis.
Selasa, 19 November 2013
Menunggu
Entah ini namanya apa, mungkin memang "Menunggu". Menunggu ketidakpastian lebih tepatnya, ditanggal yang ku bilang "sakral", dua puluh enam. Dua puluh enam yang memberi pengakuan, dua puluh enam yang memberi kepastian mungkin.
Dua puluh enam, dua puluh enam, dua puluh enam, akankah angka ini gak ada artinya kalau aku berulang-ulang menyebutnya. Mungkin sampai aku bosan, tapi tidak. Aku tetap menunggu sesuatu disana, tidak bisa ku elak. Aku memang sedang menunggu, kamu. Hanya itu. Kamu.
Abal-abal
Hey
hujan,
Tega
sekali kali ini kamu mengurungku dalam situasi yang tidak menguntungkan sama
sekali. Puasa sendiri, terjebak hujan di kost sedangkan aku ingin membeli
beberapa makanan diluar. Ahh,.. udara mendesir terasa dingin menyentuh daun
telingaku. Rasanya ingin makan enak kali ini, sayang keadaan tidak berpihak
padaku. Mataku melirik mesra 3 bungkus mie sedap goreng dalam lemari yang
memang ku sediakan kalau-kalau ada kejadian (seperti ini). Dua bungkus kopi
instan siap seduh juga turut minta ku jamah, ternyata sudah sebulan lebih aku
tidak minum kopi. Fiuhhh... Ku hela napas panjang menatap diriku sendiri
mengenaskan. Hidup macam ini?
Hujan,
apa kamu punya cara membuatku tersenyum kali ini? Menghiburku karna kelakuanmu
yang sedikit menyebalkan sore ini. Aku tidak punya teman rasanya, miris sekali.
Aku kah manusia paling kurang bersyukur di dunia? Entahlah... mungkin saja..
Aku
bingung, mungkin baginya aku seperti memberi tamparan keras dihadapan umum. Aku
benar-benar menganggapnya seperti angin yang berlalu begitu saja, atau seperti
deretan sepedah motor yang terjejer rapi di parkiran. Astagaaa..!! Tega sekali
aku ini. Makhluk macam apa aku ini? Aku membuatnya berharap dan sekarang aku
tak menganggapnya sama sekali. Tapi buatku, kata teman tidak semestinya
berlebihan seperti itu. Haruskah aku sering-sering dekat dengan dia? Bukankah
itu hanya seperti memberi karcis Cuma-Cuma untuk masuk ke dalam hidupku lagi?
Aku tidak mengusirnya, tidak. Hanya aku tidak mau dia terlalu berharap. Aku
tahu aku memustuskan untuk berteman lagi dengan dia, tapi tidak harus dengan
pulang pergi bersama. Tidak. Aku tahu itu tidak akan efektif untuk misi
melupakan. Sungguh cara yang sangat bodoh.
Langganan:
Postingan (Atom)